MALANG, Projatim.id — Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Singhasari di Kabupaten Malang terus menjadi sorotan publik, terutama setelah kehadiran institusi pendidikan internasional seperti King’s College London (KCL). Namun bagi Wakil Ketua DPR RI dari Fraksi Gerindra, Rahayu Saraswati, keberadaan KEK tak boleh hanya dipandang sebagai proyek ekonomi biasa. Lebih dari itu, KEK Singhasari disebutnya sebagai ruang strategis untuk menjembatani kejayaan masa lalu dengan tantangan masa depan.

Dengan semangat menjaga jati diri bangsa di tengah arus digitalisasi global, Saraswati menegaskan pentingnya KEK sebagai kolaborasi antara pelestarian budaya dan kemajuan teknologi.

“Budaya, kekayaan, legacy, heritage, peninggalan sejarah semua itu harus tetap menjadi kebanggaan kita. Tanpa meninggalkannya, kita juga harus melihat ke depan, menatap masa depan dengan kemajuan teknologi, baik itu AI, cyber security, dan lain sebagainya,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menyoroti pentingnya pembangunan SDM unggul melalui pendidikan yang relevan dengan kebutuhan masa kini. Ia menyebut kehadiran sekolah-sekolah dan lembaga pelatihan di KEK Singhasari sebagai langkah penting menuju kesiapan generasi penerus.

“Hadirnya The King’s College London, salah satu universitas terkemuka dari Inggris, membawa pelajaran-pelajaran digital. Di sini juga ada sekolah animasi, serta SMA yang berbasis ekonomi kreatif. Ini luar biasa,” tambahnya.

Namun Saraswati juga menggarisbawahi bahwa keberhasilan sektor kreatif tidak cukup hanya dengan bakat dan pelatihan. Harus ada kepastian pasar agar potensi anak muda bisa benar-benar terserap dalam ekosistem ekonomi nasional.

“KEK tidak bisa hanya dilihat sebagai status semata. Harus ada daya tarik yang jelas bagi investor agar KEK benar-benar mendorong terbukanya lapangan kerja, tidak hanya padat kreasi, tapi juga padat karya,” tegasnya.

Ia menilai tantangan berikutnya adalah bagaimana KEK Singhasari bisa menjadi magnet investasi digital dan pariwisata, termasuk dari pelaku industri besar dunia. Menurutnya, potensi kawasan ini besar, tapi butuh dukungan dari investor kelas dunia seperti jaringan perhotelan internasional, data center, hingga perusahaan digital global.

“Fungsi kami di DPR RI adalah legislasi, pengawasan, dan penganggaran. Khusus di Komisi VII, kami fokus pada pariwisata, UMKM, ekonomi kreatif, dan perindustrian. Undang-undang yang mendukung KEK sudah jelas. Sekarang, tantangannya adalah implementasi,” jelas Saraswati.

Menutup pandangannya, Saraswati berharap agar KEK Singhasari tidak hanya dimanfaatkan oleh satu pihak, melainkan bisa memberi dampak luas terhadap perekonomian masyarakat secara nyata.

“Sudah empat tahun berdiri. KEK harus jadi penggerak ekonomi yang berdampak luas, bukan hanya untuk satu kelompok. Harus ada multiplier effect yang nyata,” pungkasnya.

Sementara itu, Bupati Sanusi yang juga turut mendampingi rombongan legislasi dalam kunjungan tersebut menegaskan bahwa Pemkab Malang berkomitmen penuh mendukung pembangunan KEK Singhasari melalui berbagai inovasi, termasuk pengembangan Community Based Tourism, Hospitality Lab, dan Teaching Hotel yang menggandeng Universitas Brawijaya. Selain itu, kolaborasi strategis juga dilakukan dengan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui Center of Excellence dan Center for Future Work.

“Kita tidak lagi berbicara soal pembangunan berbasis fisik semata. Masa depan ekonomi kini bertumpu pada inovasi, teknologi, dan kualitas sumber daya manusia. KEK Singhasari adalah cerminan arah pembangunan masa depan itu,” terangnya.