PASURUAN, Projatim.id – Dalam rangka memperkuat ketahanan ideologis bangsa dan memperluas gerakan pembumian nilai-nilai luhur Pancasila di tengah kehidupan masyarakat, kegiatan bertajuk “Penguatan Jaringan Relawan Kebijakan Pancasila kepada Kelompok Masyarakat Tahun 2025” digelar dengan khidmat dan semangat pada Minggu, 20 Juli 2025, bertempat di Gedung Anisah Foundation, Kabupaten Pasuruan.
Kegiatan ini merupakan dari pada mitra kerja antara Komisi XIII DPR RI dengan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) dengan dihadiri oleh ratusan peserta dari berbagai latar belakang tokoh masyarakat, aktivis perempuan, pemuda, tokoh agama, dan unsur pendidikan yang secara aktif mengikuti sesi-sesi pembekalan dan dialog terbuka mengenai urgensi peran relawan dalam menjaga semangat kebangsaan di akar rumput.
Hadir sebagai narasumber utama, Dr. Hj. Laila Abidah, S.Ag, M.Ag, Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur, yang secara tegas menyampaikan bahwa keberadaan relawan ideologi seperti ini merupakan elemen penting dalam mempertahankan jati diri bangsa Indonesia.
“Menjaga Pancasila bukan hanya tugas negara atau lembaga formal, tetapi merupakan tanggung jawab moral seluruh elemen masyarakat. Relawan Pancasila harus hadir sebagai penjaga nilai, sebagai penyambung lidah kearifan lokal yang memperkokoh semangat kebangsaan di tengah masyarakat,” tegas Laila dalam pemaparannya.
Menurutnya, banyak konflik sosial dan disintegrasi yang terjadi bukan karena perbedaan semata, tetapi karena semakin jauhnya nilai-nilai persatuan, keadilan, dan kemanusiaan dari praktik kehidupan sehari-hari. Karena itu, ia menekankan pentingnya menghadirkan Pancasila secara nyata dan kontekstual di tengah kehidupan warga.
“Pancasila tidak boleh hanya berhenti di teks pembukaan UUD 1945. Ia harus menyatu dalam cara kita memperlakukan sesama, menyelesaikan konflik, membangun gotong royong, dan merawat keberagaman. Relawan adalah jembatan moral antara nilai dan praktik,” tambahnya.
Kegiatan ini juga diwarnai diskusi mendalam mengenai tantangan masyarakat hari ini yang kerap terjebak dalam polarisasi sosial dan budaya. Dalam konteks tersebut, relawan menjadi agen yang menyejukkan ruang publik, mengedukasi masyarakat tanpa menggurui, dan menjadi pelaku langsung dalam menghidupkan semangat toleransi serta kebersamaan.
Salah satu peserta, Samuji, salag satu anggota Ansor dari Kecamatan Gempol, menyampaikan kesannya usai mengikuti kegiatan ini. Ia merasa lebih percaya diri dan terinspirasi untuk mengambil peran aktif dalam menjaga nilai-nilai kebangsaan di lingkungannya.
“Kegiatan ini membuka mata saya bahwa menjaga Pancasila itu bukan pekerjaan elit, tapi kerja semua orang. Mulai dari keluarga, RT, desa, sampai komunitas. Saya siap jadi relawan, bukan karena diminta, tapi karena saya tahu ini tanggung jawab saya sebagai warga negara,” ujarnya penuh semangat.
Ia pun bertekad untuk menggelar kegiatan serupa dalam skala lokal, seperti forum warga, diskusi remaja masjid, hingga kegiatan sosial berbasis nilai Pancasila.
“Kami akan mulai dari hal kecil. Dari saling menghargai, membantu tetangga, dan menanamkan nilai-nilai gotong royong. Karena itu semua adalah bentuk nyata dari Pancasila,” tambahnya.
Acara ditutup dengan pembacaan komitmen bersama dari seluruh peserta untuk menjadi bagian dari jaringan relawan kebijakan Pancasila yang aktif, tangguh, dan berkelanjutan. Mereka sepakat bahwa kekuatan bangsa tidak hanya lahir dari pembangunan fisik, tetapi juga dari kekuatan moral yang dijaga dan ditanamkan bersama.
Melalui kegiatan ini, semangat kebangsaan kembali diteguhkan bukan hanya sebagai simbol, tetapi sebagai napas hidup keseharian. Dari Pasuruan, gema Pancasila kembali digaungkan, oleh mereka yang percaya bahwa cinta tanah air adalah kerja nyata, bukan sekadar wacana.





