Kota Malang dikenal dengan hawa sejuk dan lanskap pendidikannya, telah lama dikenal sebagai miniatur Indonesia.
Di tengah keberagaman suku, ras, dan agama yang mendiami “Bhumi Arema”, kehadiran Nahdlatul Ulama (NU) selama satu abad terakhir telah menjadi jangkar moral yang menjaga stabilitas sosial.
Memasuki abad kedua, semangat atau spirit NU dalam merawat kemajemukan menjadi semakin relevan untuk diteladani oleh seluruh bangsa ini. Khususnya warga Kota Malang.
Pilar Moderasi di Jantung Kota
Selama 100 tahun, NU konsisten mengusung konsep Tawasut (moderat), Tawazun (seimbang), dan I’tidal (tegak lurus).
Di Malang, nilai-nilai ini tidak hanya berhenti di ruang-ruang pesantren atau diskusi formal, tetapi mewujud dalam interaksi pasar, kampus, hingga kehidupan bertetangga.
Spirit satu abad ini mengajarkan bahwa menjadi religius tidak berarti harus eksklusif.
Sebaliknya, keimanan yang kuat seharusnya melahirkan kepedulian sosial yang melampaui sekat-sekat keyakinan.
Menjaga “Rumah Bersama” Arema
Keberagaman di Kota Malang adalah sebuah keniscayaan, namun keharmonisan adalah hasil dari upaya yang disengaja.
NU di Malang telah menunjukkan peran strategisnya melalui:
Dialog Lintas Iman: Kader-kader NU aktif dalam forum komunikasi antarumat beragama, memastikan bahwa setiap gesekan kecil dapat diselesaikan dengan musyawarah.
Pendidikan Inklusif: Lembaga pendidikan di bawah naungan NU di Malang tetap terbuka dan mengajarkan nilai kebangsaan, sehingga mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga santun dalam perbedaan.
Aksi Kemanusiaan : Melalui Banser dan lembaga amil zakatnya, NU seringkali menjadi garda terdepan dalam membantu sesama warga Malang tanpa memandang latar belakang agama saat terjadi bencana atau kesulitan sosial.
Refleksi Abad Kedua: Tantangan Digital dan Polarisasi
Meneladani spirit satu abad NU berarti berani menghadapi tantangan zaman. Di era digital ini, narasi intoleransi seringkali lebih cepat menyebar daripada pesan perdamaian. Warga Malang, terutama generasi muda (Gen Z dan Milenial), diharapkan mampu menyerap manhaj (jalan) NU yang mengedepankan Rahmatan lil ‘Alamin (rahmat bagi semesta alam).
Toleransi di Malang bukan sekadar “membiarkan” orang lain beribadah, melainkan “bekerja sama” dalam membangun kota. Inilah esensi dari semangat Merawat Jagat, Membangun Peradaban.
”Kekuatan Malang bukan terletak pada keseragamannya, melainkan pada keberanian warganya untuk saling menjaga di tengah perbedaan. Satu Abad NU adalah bukti bahwa agama bisa menjadi perekat, bukan pemisah.”
Kesimpulan
Peringatan satu abad NU di Kota Malang adalah momentum bagi kita semua—baik warga Nahdliyin maupun masyarakat umum—untuk memperbarui komitmen kebangsaan.
Dengan meneladani spirit NU, Malang akan tetap menjadi kota yang sejuk, bukan hanya karena iklimnya, tetapi juga karena kedamaian hati para penduduknya yang saling menghargai. (*)
Penulis
H.Sudari, S.Ag, M.Pd
(Dosen UIBU Malang dan Sekretaris MWC NU Lowokwaru Kota Malang)





