Kota Batu, Projatim.id – Desa Tulungrejo, Kota Batu menunjukkan lompatan signifikan dalam pengembangan ekonomi berbasis desa melalui skema kerja sama dengan pihak ketiga sejak 2024.

Mengacu pada Perjanjian Kerja Sama (PKS) berdurasi 15 tahun, pengelolaan kawasan seluas 12 hektare dengan 10 hektare di antaranya telah terbangun sebagai wahana wisata yang mampu mendorong pertumbuhan pendapatan sekaligus membuka lapangan kerja bagi warga setempat.

Dalam tahap uji coba hingga operasional awal, tercatat sekitar 200 warga desa terserap sebagai tenaga kerja pada destinasi wisata Mikutopia.

Jumlah tersebut diproyeksikan meningkat hingga 400 orang saat kawasan resmi dibuka sepenuhnya.

Tak hanya itu, sebanyak 1.600 orang juga telah tercover dalam program BPJS sebagai bentuk perlindungan sosial bagi masyarakat yang biayanya ditanggung pihak Pemdes.

Mikutopia hadir sebagai destinasi unik dengan bangunan ikonik berbentuk rumah jamur yang merepresentasikan potensi lokal Desa Tulungrejo, Kota Batu.

Kawasan ini mengusung konsep “Budaya Makan dan Budaya Ngumpul” dengan mengintegrasikan komoditas unggulan desa, khususnya hasil budidaya jamur dari para petani setempat, sebagai daya tarik utama sekaligus penggerak ekonomi warga.

Inspirasi pengembangan turut merujuk pada praktik pertanian modern yang dipelopori tokoh seperti Tan Gim Bou, petani jamur asal Tiongkok.

Selain itu, area parkir sengaja disterilkan dari lapak pedagang kaki lima guna memberi ruang bagi warga sekitar untuk terlibat langsung dalam kegiatan usaha dan memperkuat sektor UMKM.

Secara finansial, dampak kerja sama ini terlihat dari peningkatan pendapatan desa. Sebelum PKS, pendapatan desa hanya berkisar Rp200 juta per tahun.

Setelah kerja sama berjalan, kontribusi tetap mencapai Rp350 juta pada 2024, meningkat menjadi Rp370 juta pada 2025, dan diproyeksikan Rp390 juta pada 2026.

Sementara itu, kontribusi bagi hasil juga menunjukkan tren positif, yakni Rp532 juta pada 2025 dan Rp537 juta pada 2026. Pendapatan kotor kawasan bahkan mencapai Rp 3 miliar lebih dalam 11 hari dengan kontribusi pajak mencapai Rp350 juta.

Kepala Desa Tulungrejo, Suliono, menegaskan bahwa kerja sama ini dirancang untuk memberdayakan masyarakat secara menyeluruh.

“Kami tidak hanya mengejar pendapatan desa, tetapi juga memastikan warga terlibat langsung, baik sebagai pekerja maupun pelaku usaha. Harapannya, manfaat ekonomi ini benar-benar dirasakan secara merata,” ujarnya.

Kades Suliono juga menambahkan bahwa pendekatan berbasis budaya menjadi kunci keberhasilan pengembangan desa wisata tersebut.

“Konsep budaya makan dan budaya berkumpul kami angkat dari keseharian masyarakat. Ini bukan sekadar destinasi, tetapi ruang hidup yang tumbuh dari kearifan lokal,” kata Suliono.

Atas capaian tersebut, Desa Tulungrejo berhasil meraih penghargaan internasional sebagai Desa Wisata Berkelanjutan pada 2025, memperkuat posisinya sebagai model pengembangan desa yang adaptif dan inklusif.