MALANG, Projatim.id -PT HM Sampoerna Ajak Stakeholder Atasi Risiko Air dan Lingkungan di Kota Malang
PT HM Sampoerna Tbk menggelar Stakeholder Meeting Alliance for Water Stewardship (AWS) 2026. Acara tersebut bertujuan demi keberlangsungan lingkungan dan tata kelola air.
Acara Stakeholder Meeting Alliance for Water Stewardship (AWS) merupakan kegiatan di tahun ketiga yang dihadiri langsung oleh berbagai stakeholder pada Kamis (23/04/2025) di Hotel Alana Kota Malang.
Tri Santoso, Kepala Bidang Tata Lingkungan Hidup DLH Kota Malang, menegaskan bahwa pendekatan pengelolaan lingkungan tidak dapat dipisahkan dari pengendalian risiko yang lebih luas.
“AWS merupakan komitmen untuk mengendalikan risiko di lingkungan hidup dan kesehatan,” ujarnya.
Ia juga menyoroti persoalan pengelolaan sampah yang masih menjadi tantangan utama. Menurutnya, permasalahan sampah tidak berhenti pada tahap pengangkutan dari rumah tangga.
“Pengelolaan sampah baru akan dimulai hingga proses akhir di TPA. Mindset masyarakat harus diubah untuk melakukan pengolahan untuk mengurangi sampah di TPA,” kata Tri.
Sementara itu, Sulung Prasetyo, Manager Manufacturing Sustainability PT HM Sampoerna Tbk, mengatakan bahwa kegiatan Stakeholder Forum AWS Malang sudah diinisiasi sejak 2024. Program tersebut digencarkan untuk mengajak stakeholder dalam upaya tata kelola air yang berkelanjutan.
”Program tata Kelola air dapat dimulai dengan hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu penerapannya yaitu dengan melakukan penggunaan air secara bijak dan mengetahui peruntukannya sehingga pemanfaatan air tersebut dapat lebih efisien.” jelasnya.
Sulung juga menambahkan bahwa sejak 2024, berbagai kegiatan telah dilaksanakan sebagai rangkaian dari sertifikasi AWS.
”Berbagai kegiatan telah kami laksanakan, mulai dari Sosialisasi Perilaku Hidup Bersih, Gerakan Angkat Sampah dan Sedimen, dan Pengembangan Sumur Injeksi. Selain kegiatan yang telah dilakukan, kami juga perlu mendapatkan masukan dari para stakeholder untuk mengurangi risiko di sekitar pabrik dan di wilayah hulu DAS Bango,” paparnya.
Di pihak lain, Daryanto, Kepala Seksi Perencanaan, Pengembangan dan Pemanfaatan Tahura Raden Soerjo, menyampaikan bahwa salah satu tantangan utama di wilayah hulu DAS Bango adalah lahan kritis.
“Banyak faktor penyebab yaitu faktor alam dan kelalaian manusia, seperti pembukaan lahan dan perburuan liar yang membakar hutan,” ungkapnya.
Selain itu, kondisi lahan kritis di lereng Gunung Welirang juga menjadi perhatian. Upaya rehabilitasi melalui penanaman pohon dinilai perlu dilakukan secara berkelanjutan untuk memulihkan fungsi ekosistem.
Dalam forum tersebut, para peserta juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat dalam mengelola sumber daya air dan lingkungan secara berkelanjutan. Pendekatan terpadu dinilai menjadi kunci dalam menghadapi tantangan lingkungan yang semakin kompleks di wilayah DAS Bango.
Stakeholder Forum and Sharing Session yang merupakan rangkaian kegiatan sertifikasi standar Alliance for Water Stewardship (AWS) ini dihadiri oleh berbagai perwakilan, mulai dari pemerintah, akademisi, media, masyarakat, dan industri yang berada di Kota Malang.




