PASURUAN, Projatim.id —Menjelang Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80 pada 17 Agustus 2025, pernyataan keras dilontarkan oleh Andri Firmansyah, Sekretaris Umum DPC Poros Sahabat Nusantara Kabupaten Pasuruan. Ia menyuarakan sorotan tajam terhadap posisi dan peran generasi muda di tengah arus revolusi teknologi, khususnya kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), yang terus berkembang secara massif.
“Pemuda tidak boleh jadi penonton di tengah ledakan teknologi! AI bukan untuk ditakuti atau disalahgunakan, tapi harus dimanfaatkan secara maksimal untuk memperkuat daya saing, memperluas pengetahuan, dan membangun masa depan,” tegas Andri dengan nada tegas dan menggugah.
Ia mengkritik keras fenomena anak muda yang hanya menjadi konsumen pasif teknologi menghabiskan waktu dengan aplikasi hiburan tanpa memanfaatkan alat-alat canggih seperti AI untuk belajar, bekerja, berbisnis, dan meningkatkan kapasitas diri.
“Sudah cukup jadi generasi rebahan digital! AI harus dijadikan alat perjuangan, bukan pelarian. Dari ruang kelas, meja kerja, hingga dapur usaha semua bisa dimaksimalkan dengan teknologi. Tapi itu butuh kesadaran, bukan sekadar gengsi atau gaya,” serunya lantang.
Andri menekankan bahwa generasi milenial dan Gen Z harus mengambil tanggung jawab sejarah sebagai tongkat estafet bangsa menuju Indonesia Emas 2045. Bukan sekadar menjadi pengguna teknologi, tapi menjadi penggerak perubahan yang mampu menyuntikkan semangat kebangsaan, kolaborasi, dan kepedulian dalam setiap aktivitasnya.
“Jangan mimpi jadi generasi emas kalau mentalnya masih perak murahan! Negara ini butuh anak muda yang tidak hanya cerdas digital, tapi juga cerdas sosial dan politik. AI tanpa visi kebangsaan hanya akan melahirkan generasi egois dan terfragmentasi,” tegasnya.
Ia menyerukan agar anak muda membentuk ekosistem pembelajaran, kerja kreatif, bisnis kolaboratif, dan gerakan sosial yang memanfaatkan teknologi sebagai alat perjuangan. Bukan hanya mengejar profit, tetapi juga memperjuangkan nilai-nilai keadilan, kemandirian, dan solidaritas.
“Jelang 17 Agustus ini, saya tegaskan pemuda harus bangkit. AI adalah tantangan sekaligus senjata. Siapa yang menguasainya dengan semangat kebangsaan, dialah yang akan jadi pemimpin masa depan! Kalau tidak sekarang, kapan lagi kalian mau ambil alih sejarah?” pungkas Andri dengan nada keras, lugas, dan membakar semangat.
