MALANG, Projatim.id Di tengah menguatnya tensi politik nasional menjelang momentum demokrasi 2025–2026, Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Jawa Timur menggelar Musyawarah Kerja Wilayah (Muskerwil) di BBPPMPV BOE Blimbing, Kota Malang, pada 8–9 November 2025.

Dengan tema “Mengawal Aspirasi, Menjaga Kondusivitas”, forum ini menjadi ruang strategis bagi Ansor untuk mempertegas peran ideologisnya sebagai penjaga nilai kebangsaan sekaligus pengawal stabilitas sosial di tengah riuhnya kontestasi politik nasional.

Muskerwil Ansor Jatim dibuka dengan Apel Banser dan Parade Budaya 4 Pilar MPR RI, yang menegaskan komitmen Banser terhadap nilai Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.

Kegiatan dilanjutkan dengan Pengukuhan Satkorwil Banser Jawa Timur serta Seminar Nasional Kepemiluan bertajuk “Masa Depan Demokrasi di Indonesia”, menghadirkan berbagai tokoh nasional, akademisi, dan pejabat pemerintahan.

Acara ini juga dihadiri oleh sejumlah tamu penting, antara lain Prof. Dr. H. Bianto, M.Ag (Staf Ahli Menteri Dikdasmen), Wakil Ketua Umum PP GP Ansor Lora H. Ach. Ghufron Siradj, Mr. Isaac (Konsulat Taiwan), Wakil Wali Kota Malang H. Ali Mutohirin, serta Wali Kota Blitar H. Sauqul Muhibbin.

Hadir pula jajaran struktural GP Ansor dan Banser seperti Kasatkornas Banser H. Syafiq Syauqi Lc, Wakil Bendahara Umum PP GP Ansor H. Abdussalam, Ketua PP/Korwil Jatim H. M. Hasan Bisri, Ketua PW GP Ansor Jatim H. Musaffa’ Safril, dan Kasatkorwil Banser Jatim H. Reza Ali Faizin.

Dalam sambutannya, Ketua PW GP Ansor Jawa Timur, H. Musaffa’ Safril, menegaskan bahwa Muskerwil bukan sekadar forum administrasi organisasi, melainkan titik balik konsolidasi moral dan ideologis Ansor di tengah dinamika bangsa yang makin kompleks.

“Ansor bukan sekadar organisasi kepemudaan. Kita adalah benteng ideologis bangsa. Di tengah hiruk-pikuk politik, Ansor harus berdiri di barisan depan untuk mengawal aspirasi rakyat dengan cara yang bermartabat dan beradab,” tegas Musaffa’.

Ia menekankan, menjaga kondusivitas bukan berarti bersikap pasif, melainkan aktif memastikan agar setiap ekspresi politik tidak berubah menjadi perpecahan sosial.

“Menjaga kondusivitas bukan berarti menutup ruang kritik. Justru kita memastikan bahwa kritik lahir dari cinta kepada negeri. Itulah peran Ansor sebagai penyalur aspirasi umat yang cerdas dan beradab,” ujarnya.

Bagi Musaffa’, generasi muda Ansor harus tampil sebagai “kompas moral” bangsa menjaga akal sehat publik, menolak disinformasi, dan menegakkan etika politik yang berkeadaban.

Sementara itu, Kasatkorwil Banser Jawa Timur, H. Reza Ali Faizin, menegaskan bahwa pengukuhan Satkorwil Banser bukan sekadar formalitas, melainkan konsolidasi kekuatan moral dan kesiapsiagaan sosial seluruh anggota Banser di Jawa Timur.

“Banser tidak akan diam jika Pancasila, NKRI, dan ketenangan masyarakat terganggu. Kami bukan pasukan politik, kami pasukan nilai. Kesiapsiagaan Banser adalah kesiapan ideologis,” tegas Reza.

Menurutnya, Banser telah membuktikan diri bukan hanya dalam menjaga keamanan acara keagamaan, tetapi juga dalam menghadapi tantangan kemanusiaan dan sosial, seperti bencana alam, intoleransi, dan hoaks politik.

“Banser Jawa Timur akan terus solid, disiplin, dan siap mengabdi. Kita jaga marwah organisasi dengan kerja nyata  menjaga kondusivitas, menenangkan masyarakat, dan memastikan Indonesia tetap damai bagi semua,” tambahnya.